Ustad Hasan bin Ahmad Baharun (Dunia Waktunya Berjuang)

Ustad Hasan bin Ahmad Baharun berasal dari pasangan Habib Ahmad bin H usain Baharun dan Ibu Fathmah binti Ahmad Bakhbazi. Beliau merupakan anak pertama dari 4 bersaudara kedua pasangan tersebut. Sejak kecil beliau sudah dididik disiplain oleh keluarganya.
Perjalanan menuntut ilmunya dimulai dari lingkungankeluarga sendiri hingga semakin jauh dan jauh tempat beliau menuntut ilmu. Semasa belajar dan menetap di Surabaya beliau menjadi murid kesayangan guru beliau bernama Habib Umar Baagil yang juga merupakan seorang ulama terkenal dalam ilmunya. Selain belajar ilmu agama Hasan kecil juga mendalami ilmu-ilmu umum, beliau juga bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), lalu meneruskan ke sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) namun hanya ditempuh selama 4 tahun dari 6 tahun yang seharusnya di jalani dikarenakan beliau harus pindah ke Surabaya. Di Surabaya akhirnya ia lanjutkan belajar di sebuah SMEA hingga lulus.
Masa mudanya diisi dengan keorganisasian yang menjadi salah satu kegemaran beliau diantaranya beliau ikut organisasi Persatuan Pelajar Islam (PII) dan pernah di utus mengikuti Muktamar I PII se Indonesia di Semarang.
Keluarga Ustad Hasan Terkenal sangat dermawan, tak jarang dalam berdagang terjadi penghutangan dalam system perdagangan yang di jalani dan tak jarang pula terjadi pembebasan hutang bagi orang-orang yang sebagian besar tak mampu membayar.
Ustad Hasan yang sudah mendalami ilmu agama, juga memiliki sebuah keahlian yaitu memotret dan cuci cetak film. Keahlian ini beliau manfaatkan sebagai daya tarik bagi massa untuk melakukan dakwah. Selama proses cuci cetak berlangsung belaiu manfaatkan waktu tersebut untuk berdialog seputar masalah agama bersama pelanggannya.
Tahun 1996 beliau merantau ke Pontianak dan berda’wah disana, di tempat ini cara da’wah yang diterapkan benar-benar memudahkan, dalam melakukan da’wah beliau manyediakan alat pengeras suara sendiri sehingga tidak terlalu membuat repot panitia. Di ranah Kalimantan ini beliau menjadi seorang ulama yang terkenal terbukti dengan pondok pesantren yang di rintisnya di Bangil banyak santri yang berasal dari Kalimantan.
Setelah merantau dan berda’wah beberapa lama di Kalimantan beliau kembali ke Bangil dan merintis sebuah Pondok Pesantren yang bernama Daarul Lughah wa Da’wah. Ustad Hasan memiliki kelebihan dalam berbahasa arab, kemempuan yang beliau punya dalam berbahasa arab menjadikan beliau sebagai penerjemah dawuh dari guru-guru yang datang dari tanah Yaman. Pondok yang beliau dirikan pada tahun 1981 berasal dari dawuh Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki.
Berbagai halang rintang serta cobaan dilalui dalam masa perintisan pondok, kala itu terhitung hingga 11 kali beliau beserta santri pidah kontrak rumah hingga akhirnya sampai di sebuah desa di Bangil yang terpencil dan masih sedikit penduduknya serta belum dialiri listrik.
Ustad Hasan Baharun terus melakukan perjalanan rintisan pondok beliau hingga akhir hayatnya. Beliau adalah orang pertama yang menghubungkan Indonesia dengan Hadramaut dalam rangka memberabgkatkan pelajar untuk menuntut ilmu di Pondok Daarul Mushtafa di Kota Tarim. Sebelumnya memng sudah ada beberapa pelajar Indonesia yang sudah belajar di kota Tarim namun koordinasi yang terjadi belum sebagus koordinasi yang beliau bangun.
Karena kemampuan beliau terhitung lebih dalam segi bahasa arab, karya-karya yang beliau buat ternyata juga sampai ke Universitas Indonesia (UI) sampai beliau akan di anugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari perguruan Tinngi tersebut atas jasa-jasanya dalam pengembangan bahasa arab. Namun sebelum itu terjadi ia telah wafat lebih dulu meninggalkan anak-anak yang bersatu dalam melanjutka da’wahnya.
Tiga hari sebelum wafat, ustad Hasan berpesan pada ank-anaknya, “ Nanti sesudah ana meninggal ente piker keadaannya akan sama seperti sekarang ( penuh kesulitan dalam membina pondok Pesantren)? Tiap hari tutup utang dan tiap hari berutang lagi untuk menutup biaya pendidikan anak-anak santri? Tidak!. Yakinlah, setelah ana meninggal, bukan ente yang mencari bantuan. Mereka sendiri yang akan dating. Adapun yang ana hadapi sekarang ini tak lain untuk mengangkat derajat ana.”
Masih terngiang dalam ingatan anak-anak beliau wejangan dari sang ayah, “Saya iini punya penyakit jantung, jadi harus ngebut. Sekarang bukan waktunya beristirahat. Sekarang waktunya berjuang. Kalau sudah di kuburan nanti, itu baru beristirahat. Makanya, untuk sekarang, jangan pernah beristirahat!”
habib

About ahmadalwi

trial and orrer
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s