Kitab Jurumiyyah(Nahwu)

Jurumiyyah merupakan sebuah cabang ilmu dalam agama Islam bernama Ilmu Nahwu. Nahwu dikenal juga sebagai bapaknya ilmu, di karenakan nahwu merupakan sebuah ilmu alat untuk membaca tulisan-tulisan arab. Jurumiyyah merupakan sebuah kitab tipis yang biasa diguakan untuk memahami ilmu nahwu bagi tingkat pemula.

Ilmu Nahwu dipelopori oleh seorang bernama Abu Aswad Ad Duali. Berawal dari pertanyaan yang ia lontarkan pada anaknya di suatu malam. Beliau heran dan tak lazim mendengar jawaban yang diberi anaknya atas pertanyaan yang dilontarkan, sebab tak sesuai dengan susunan kata dan penempatan yang semestinya. Jawaban sang anak memang benar, akan tetapi jawban tersebut bias menghasilkan makna lain yang kurang pas maknanya. Dari sinilah Abu Aswad Ad Duali memulai menyusun Ilmu Nahwu tersebut.

Jurumiyyah adalah kitab nahwu dasar yang di karang ole Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad As Sonhaji. Pada saat Jurumiyyah selesai di tulis beliau mencaburkan kitab tersebut ke dalam air, ajaibnya tinta tulisan kitab tersebut tak luntur sama sekali walaupun kertasnya basah.

Kitab Jurumyyah terdiri dari beberapa bab, awal bab di dahului dengan bab kalam lalu I’rab, dan teru hingga di akhiri bab makhfudhotil asma. Selain Jurumiyyah masih banyak kitab nahwu lainnya seperti ‘imrithi oleh Syarifuddin Yahya Al ‘Imrithi, dan Alfiyyah Ibn Malik oleh Ibnu Malik Al Andalusi, seorang berkebangsaan Spanyol.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Indonesia Menang

Skor 2-1 Indonesia di Gelora Bung Karno kemarin menunjukkan kemenangan Negara Indonesia. Kegagalan yang tercapai ini membuat Indonesia harus rela menempati posisi runner-up untuk keempat kalinya, bukan posisi jawara. Pada kenyataanya skor 2-1 tak mengubah apapun yang membuat Indonesia bisa berada di posisi puncak pertama dikarenakan agregat skor yang lebih besar yang harus diterima sebesar 4-2 untuk Malaysia. Indonesia bermain secara terbuka ssejak awal pertandingan. Sebagaimana yang di tayangkan langsung oleh RCTI pada hari Rabu 29/12 lalu, sejak menit pertama terlihat usaha timnas yang sangat ingin menjebol gawang Malaysia sesegera mungkin. Permainana meyerang di terapkan sejak awal pertandingan dengan Gonzales sebagai ujung tombaknya, tapi tak banyak yang dapat di perbuat oleh warga baru Indonesia yang satu ini, karena ia di jaga ketat oleh tiga punggawa belakang Malaysia. Dengan tak-tik serangan yang diterapkan Indonesia terlihat jelas Malaysia meladeninya dengan tak-tik bertahan sebagaimana yang dikatakan oleh komentator ditengah pertandingan berlangsung. Sekalipun dengan tak-tik pertahanan Malaysia masih bisa mencuri 1 angka dari Indonesia dan menambah skor agregat mereka menjadi 4 angka. Serangan terakhir Indonesia sebelum peluit panjang berbunyi di lancarkan oleh Bustomi, namun mesih melebar dari gawang. Sekalipun dinyatakan kalah, namun timnas berhasil memetik kemenangan di Negara sendiri melalui perjuangan yang tak pantang mundur, timnas sudah berjuang untuk memperoleh kemenangan, terlihat dengan usaha serangan menekan dan berbagai peluang yang selalu dilancarkan sejak menit pertama hingga akhir yang membuahkan 2 gol di babak kedua pertandingan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ustad Hasan bin Ahmad Baharun (Dunia Waktunya Berjuang)

Ustad Hasan bin Ahmad Baharun berasal dari pasangan Habib Ahmad bin H usain Baharun dan Ibu Fathmah binti Ahmad Bakhbazi. Beliau merupakan anak pertama dari 4 bersaudara kedua pasangan tersebut. Sejak kecil beliau sudah dididik disiplain oleh keluarganya.
Perjalanan menuntut ilmunya dimulai dari lingkungankeluarga sendiri hingga semakin jauh dan jauh tempat beliau menuntut ilmu. Semasa belajar dan menetap di Surabaya beliau menjadi murid kesayangan guru beliau bernama Habib Umar Baagil yang juga merupakan seorang ulama terkenal dalam ilmunya. Selain belajar ilmu agama Hasan kecil juga mendalami ilmu-ilmu umum, beliau juga bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), lalu meneruskan ke sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) namun hanya ditempuh selama 4 tahun dari 6 tahun yang seharusnya di jalani dikarenakan beliau harus pindah ke Surabaya. Di Surabaya akhirnya ia lanjutkan belajar di sebuah SMEA hingga lulus.
Masa mudanya diisi dengan keorganisasian yang menjadi salah satu kegemaran beliau diantaranya beliau ikut organisasi Persatuan Pelajar Islam (PII) dan pernah di utus mengikuti Muktamar I PII se Indonesia di Semarang.
Keluarga Ustad Hasan Terkenal sangat dermawan, tak jarang dalam berdagang terjadi penghutangan dalam system perdagangan yang di jalani dan tak jarang pula terjadi pembebasan hutang bagi orang-orang yang sebagian besar tak mampu membayar.
Ustad Hasan yang sudah mendalami ilmu agama, juga memiliki sebuah keahlian yaitu memotret dan cuci cetak film. Keahlian ini beliau manfaatkan sebagai daya tarik bagi massa untuk melakukan dakwah. Selama proses cuci cetak berlangsung belaiu manfaatkan waktu tersebut untuk berdialog seputar masalah agama bersama pelanggannya.
Tahun 1996 beliau merantau ke Pontianak dan berda’wah disana, di tempat ini cara da’wah yang diterapkan benar-benar memudahkan, dalam melakukan da’wah beliau manyediakan alat pengeras suara sendiri sehingga tidak terlalu membuat repot panitia. Di ranah Kalimantan ini beliau menjadi seorang ulama yang terkenal terbukti dengan pondok pesantren yang di rintisnya di Bangil banyak santri yang berasal dari Kalimantan.
Setelah merantau dan berda’wah beberapa lama di Kalimantan beliau kembali ke Bangil dan merintis sebuah Pondok Pesantren yang bernama Daarul Lughah wa Da’wah. Ustad Hasan memiliki kelebihan dalam berbahasa arab, kemempuan yang beliau punya dalam berbahasa arab menjadikan beliau sebagai penerjemah dawuh dari guru-guru yang datang dari tanah Yaman. Pondok yang beliau dirikan pada tahun 1981 berasal dari dawuh Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki.
Berbagai halang rintang serta cobaan dilalui dalam masa perintisan pondok, kala itu terhitung hingga 11 kali beliau beserta santri pidah kontrak rumah hingga akhirnya sampai di sebuah desa di Bangil yang terpencil dan masih sedikit penduduknya serta belum dialiri listrik.
Ustad Hasan Baharun terus melakukan perjalanan rintisan pondok beliau hingga akhir hayatnya. Beliau adalah orang pertama yang menghubungkan Indonesia dengan Hadramaut dalam rangka memberabgkatkan pelajar untuk menuntut ilmu di Pondok Daarul Mushtafa di Kota Tarim. Sebelumnya memng sudah ada beberapa pelajar Indonesia yang sudah belajar di kota Tarim namun koordinasi yang terjadi belum sebagus koordinasi yang beliau bangun.
Karena kemampuan beliau terhitung lebih dalam segi bahasa arab, karya-karya yang beliau buat ternyata juga sampai ke Universitas Indonesia (UI) sampai beliau akan di anugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari perguruan Tinngi tersebut atas jasa-jasanya dalam pengembangan bahasa arab. Namun sebelum itu terjadi ia telah wafat lebih dulu meninggalkan anak-anak yang bersatu dalam melanjutka da’wahnya.
Tiga hari sebelum wafat, ustad Hasan berpesan pada ank-anaknya, “ Nanti sesudah ana meninggal ente piker keadaannya akan sama seperti sekarang ( penuh kesulitan dalam membina pondok Pesantren)? Tiap hari tutup utang dan tiap hari berutang lagi untuk menutup biaya pendidikan anak-anak santri? Tidak!. Yakinlah, setelah ana meninggal, bukan ente yang mencari bantuan. Mereka sendiri yang akan dating. Adapun yang ana hadapi sekarang ini tak lain untuk mengangkat derajat ana.”
Masih terngiang dalam ingatan anak-anak beliau wejangan dari sang ayah, “Saya iini punya penyakit jantung, jadi harus ngebut. Sekarang bukan waktunya beristirahat. Sekarang waktunya berjuang. Kalau sudah di kuburan nanti, itu baru beristirahat. Makanya, untuk sekarang, jangan pernah beristirahat!”
habib

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment